“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana munculnya. Karena itu, beruntunglah orang-orang yang ‘asing’.” (HR Muslim).
AKAN ada zaman ketika melaksanakan tuntunan menjadi tontonan. Akan ada masa tatkala menunaikan keta’atan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dianggap sebagai keanehan. Akan ada saat manakala bersungguh-sungguh dalam memenuhi kewajiban agama dipandang sebagai perilaku berlebihan dan bahkan melampaui batas. Akan datang suatu masa saat berpegang teguh kepada dienul Islam ini dianggap ketidakwarasan. Mereka asing di mata manusia, dan manusia pun mengasingkannya.
Inilah masa ketika berpegang teguh pada sunnah justru dianggap meninggalkan sunnah. Mereka dicerca dan tersisih. Kebenaran bagai bara api.“Akan datang kepada manusia masa (ketika) orang yang bersabar menjalankan agamanya di antara mereka seperti memegang bara api.” (HR. Tirmidzi).
Agama ini terasing dari ummat Islam, di antaranya bersebab semakin sedikitnya orang yang memberi nasehat dan peringatan. Inilah masa ketika majelis agama tak lagi memberi ilmu, nasehat dan peringatan. Bahkan keluh lidah para penceramah dari memperingatkan. Inilah masa ketika wahn (cinta dunia takut mati) dan waham (sangka; curiga) merasuk kuat, seakan muru’ah (kehormatan, wibawa) hanya tegak dengan kemewahan dan penampilan. Maafkan saya. Yang bertutur ini masih jauh dari agama. Semoga ada yang dapat kita renungi. Semoga kita belajar memuliakan agama ini.
*Catatan Ust. Mohammad Fauzil Adhim*
Sumber klik disini
- Dadang Darmawan Blog's -
hari ini lebih baik dari kemarin
Kamis, 06 November 2014
Kisah Tukang Bakso : Jawaban Singkat Memaknai Ibadah
Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik–rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini. Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor, terdengar suara tek…tek….tek… Suara tukang bakso dorong lewat.
Sambil menyeka keringat, ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak–anak, “Siapa yang mau bakso?” “Mauuu…”, secara serempak dan kompak anak–anak asuhku menjawab.
Selesai makan bakso, saya membayarnya. Namun, ada satu hal yang menggelitik pikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan di laci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini. “Mang kalo boleh tahu, kenapa uang–uang itu Emang pisahkan? Barangkali ada tujuan?”
“Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang menjadi hak orang lain, tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita–cita penyempurnaan iman.“
“Maksudnya?”, saya melanjutkan bertanya.
”Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut:
1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari–hari Emang dan keluarga.
2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.
3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang, yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa disetiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan ibadah haji.”
Hatiku sangat…sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu.
Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki. Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut: ”Iya memang bagus, tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya…”
Emang menjawab, ” Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI. Definisi “mampu” adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri.
Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, “mampu”, maka insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita”.
“Masya Allah…sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso.”
Sahabat… Cerita ini sangat sederhana. Namun, semoga memberi hikmah terbaik bagi kehidupan kita. Amin
Sumber artikel klik disini
Sambil menyeka keringat, ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak–anak, “Siapa yang mau bakso?” “Mauuu…”, secara serempak dan kompak anak–anak asuhku menjawab.
Selesai makan bakso, saya membayarnya. Namun, ada satu hal yang menggelitik pikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan di laci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini. “Mang kalo boleh tahu, kenapa uang–uang itu Emang pisahkan? Barangkali ada tujuan?”
“Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang menjadi hak orang lain, tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita–cita penyempurnaan iman.“
“Maksudnya?”, saya melanjutkan bertanya.
”Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut:
1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari–hari Emang dan keluarga.
2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.
3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang, yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa disetiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan ibadah haji.”
Hatiku sangat…sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu.
Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki. Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut: ”Iya memang bagus, tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya…”
Emang menjawab, ” Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI. Definisi “mampu” adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri.
Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, “mampu”, maka insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita”.
“Masya Allah…sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso.”
Sahabat… Cerita ini sangat sederhana. Namun, semoga memberi hikmah terbaik bagi kehidupan kita. Amin
Sumber artikel klik disini
Happy 2nd Wedding Anniversary :-)
Happy 2nd Wedding Anniversary
27 Oktober 2014
Sakinah Mawaddah Warohmah selalu ya..
Aamiin Yaa Robb
#latepost
Rabu, 05 November 2014
Cara Menghilangkan Bekas Luka dengan Mentimun
Kini, beberapa orang mulai mempertanyakan bagaimana cara menghilangkan bekas luka dengan bahan alami. Seperti yang dilansir dari a.scarsoff.com, Rabu (5/11/2014), terdapat fakta bahwa tidak ada bahan alami yang benar-benar bisa menghilangkan bekas luka. Bahan-bahan alami hanya bisa berguna untuk memudarkan bekas luka sehingga penampilan terlihat lebih baik.
Jadi sebelum menjadi kebingungan memikirkan bagaimana cara menghilangkan bekas luka, sebaiknya kita perlu memeriksa bahan masakan di dapur apa yang bisa dijadikan obat alami penghilang bekas luka.
Mentimun bisa menjadi salah satu bahan alami yang bagus untuk menghilangkan bekas luka. Hal ini disebabkan oleh mentimun yang tidak memiliki kandungan asam sehingga bisa meminimalisir terjadinya iritasi yang timbul pada kulit. Mentimun dapat ditempelkan pada bekas luka tanpa adanya batasan waktu dan tidak memperburuk kondisi bekas luka tersebut.
Menghilangkan bekas luka dengan mentimun pun sangat mudah dan murah. Mentimun sangat mudah didapat ketika mengunjungi pasar atau pusat perbelanjaan. Harga mentimun cukup murah sekitar Rp 3rb per kilo-nya.
Seperti yang dilansir dari wikihow.com, Rabu (5/11/2014), langkah awal menghilangkan bekas luka dengan cara ini adalah membuat pasta mentimun. Berikut adalah cara membuat pasta mentimun:
a) Kupas kulit mentimun dan buang biji di dalam mentimun, kemudian potong kecil.
b) Sediakan telur, kemudian pisahkan antara putih telur dan kuning telur.
c) Blender potongan mentimun sekira 4-5 menit sampai halus. (Jika terdapat persediaan, masukkan juga 5 buah daun mint segar)
d) Kocok putih telur dan campurkan dengan adonan.
e) Pasta pun siap digunakan.
Cara pengaplikasian:
a) Bersihkan kulit yang terdapat bekas luka dengan air hangat.
b) Oleskan pasta yang sudah dipersiapkan ke bekas Lukas tersebut, diamkan selama 20 menit.
c) Basuh dan cuci bekas luka dengan menggunakan air dingin.
Perlu diingat, cara menghilangkan bekas luka dengan mentimun harus dilakukan secara rutin dan hasil baru akan terlihat setelah beberapa bulan sejak rutin diaplikasikan. (Jazaul Aufa/Igw).
Sumber klik disini
Selasa, 04 November 2014
Postingan Salah Seorang Kaskuser Soal Gaji
Kuliah TInggi-tinggi, gaji lebih gedean buruh ??Membahas tentang dunai kerja memang selalu akan menarik, apalagi tentang adil atau tidaknya salari yang kita dapat dari tempat kita bekerja jika dikaitkan dengan kemampuan, jam kerja, atau latar belakang pendidikan yang kita punya. Bagi ane (anak pertama), atau beberapa dari agan2 yang terlahir dari keluarga yang biasa2 saja dengan Ibu atau Bapak yang hanya berpendidikan sampai SMP, pasti orang tua menginginkan agar anaknya mampu sekolah lebih tinggi dari mereka, bahkan kalau bisa sampe ke bangku kuliah, tujuannya tidak lain adalah agar sang anak dapat mempunyai kemampuan tertentu yang itu nanti bisa membantunya di dunia kerja, mendapat upah yang layak, dan pada akhirnya memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Namun, terkadang hidup tidak sesuai dengan apa yg direncanakan. "Kuliah Sudah, Bekerja Sudah, TAPI Gaji Masih Gedean Buruh ??" itulah kalimat yang ane dapat dari beberapa temen ane yang udah lulus kuliah dan sudah bekerja di bidang mereka masing2.
Ane tekankan bahwa disini ane tidak bermaksud untuk membanding-bandingkan jenis pekerjaan, pertanyaannya,Apakah salah jika gaji seorang sarjana lebih rendah daripada seorang buruh ? tukang parkir ? tukang bangungan ? mari kita berfikir secara logis.
Sebelumnya, ane tinggal di Yogyakarta, dimana biaya hidup disini masih relatif murah. Sekarang Ane mau share pengalaman kerja (gaji) ane dan beberapa temen ane. Untuk yang pertama, Ane ceritakan pengalaman kerja temen2 ane yang bergelar diploma ataupun sarjana.
Baca cerita selanjutnya klik disini
Minggu, 02 November 2014
Menanti Kelahiran Putera Pertama Kami
21 Oktober 2014
Pagi hari saya tiba di stasiun Tugu Yogyakarta. Saya dijemput ibu mertua dan langsung meluncur menuju rumah di Condongcatur. Rencananya saya akan berada di Yogyakarta selama dua hari. namun tiba-tiba saya harus merubah rencana saya, karena pukul 11.00 ketuban istri saya bocor..jadi gak tega dong besoknya langsung berangkat lagi ke jakarta..sempat sedih dan panik waktu itu..tapi alhamdulillah masih bisa dikendalikan.
Akhirnya setelah shalat dzuhur, saya, istri, dan ibu mertua memeriksakan kandungan ke bidan Endang di perumnas minomartani. Istri saya diperiksa dengan sebuah alat seperti testpack untuk mengetahui kandungan cairan yang ada di area vagina istri saya. ternyata benar, air tersebut adalah air ketuban..maka dengan segera sang bidan membuat surat rujukan bagi istri saya untuk segera dibawa ke Rumah Sakit Happy Land.
Dengan mengendarai kendaraan roda dua, kami tiba di rumah sakit Happy Land, setelah melakukan pendaftaran, istri saya dibawa ke ruang Unit Gawat Darurat. setelah di cek ini itu, ternyata belum ada bukaan. Istri saya juga sempat dibawa ke ruang melahirkan untuk pengecekan detak jantung dekboy yang masih didalam rahim. Alhamdulillah detak jantungnya aman..meskipun begitu, pihak rumah sakit langsung meminta kami untuk segera mengurus kamar untuk rawat inap. dapatlah kamar 304. namun saat itu kami belum bisa menempati kamar tersebut, jadi kami sementara ditempatkan di kamar 205. mungkin jika sewaktu-waktu siap melahirkan tidak susah untuk membawa istri saya ke ruang bersalin yang berlokasi di lantai 2. well acara menegangkan sedikit berkurang setelah memasuki kamar 205. saat itu kami sekeluarga hanya bisa berdoa dan berdoa karena istri saya keukeuh ingin melahirkan secara normal.
22 Oktober 2014
Sehari berlalu tanpa ada bukaan, saya dan keluarga masih berharap istri saya tetap bersabar menanti keajaiban. kami sempat khawatir janin yang ada di dalam rahim istri saya kekeringan air ketuban karena rembes.makanya saya dan ibu mertua sangat mewanti-wanti kepada istri agar tidak terlalu banyak bergerak. sempat kepikiran untuk segera ambil tindakan operasi caesar karena jarak rembesan ketuban sudah lebih dari 1x24 jam. namun saat itu kami sekeluarga lagi-lagi masih berharap keajaiban karena belakangan rembesan air ketubannya semakin sedikit.
Sebelum pukul 09.00 kami diberikan penawaran untuk melakukan induksi dengan pil. setelah berdiskusi, akhirnya istri saya menyepakati untuk mengambil tindakan induksi. Saya sempat khawatir karena pasti istri saya akan merasakan kesakitan saat di induksi nanti. pukul 09 tepat setelah mengisi surat perjanjian, induksi pertama dilakukan dengan memasukan 1/8 pil kedalam vagina istri saya. menunggu 6 jam ternyata belum ada bukaan juga..saat itu istri saya masih penasaran untuk mencoba lagi induksi tahap dua dengan memasukan 1/8 pil. istri saya tau rasanya memang pasti sakit, tapi karena semangat ingin lahir normal, keputusan itupun diambil.
Sekitar pukul 15 sore, induksi kedua pun dilakukan. Kami terus memperbanyak doa menguatkan istri yang sesekali merasa kesakitan saat adanya kontraksi. Bahkan kali ini istri saya melaksanakan shalat dengan cara duduk karena kondisinya semakin melemah akibat kontraksi yang tiba sewaktu-waktu. Pukul 21 malam tepat 6 jam induksi pil tahap dua, dokter datang ke ruangan untuk mengecek bukaan pada vagina istri saya. lagi-lagi belum ada bukaan..subhanallah bukan main kecewanya istri saya..kami yang menyaksikan tak henti-hentinya memberikan semangat dan doa. Sampai akhirnya malam itu dokter memberikan penawaran induksi terakhir dengan menggunakan infus. lagi-lagi kami harus menandatangani surat persetujuan untuk tindakan tersebut.
1 labu infus digantung pada pengait. Awalnya istri saya belum merasakan efek dari induksi infus tersebut. selang 30 menit barulah terlihat efeknya. tiap 10 menit istri saya merasakan kesakitan yang amat sangat. saya yang berada di sebelah tempat tidur istri bahkan tak henti-hentinya dijambak, dan diremas oleh tangan istri saya karena menahan sakit. saya tak kuasa menahan tangis melihat istri saya kesakitan. beberapa kali istri saya sempat putus asa. istri saya masih tetap ingin melahirkan normal karena belum siap melakukan operasi caesar. kejadian itu terus berulang sampai akhirnya infus habis dan sang perawat kembali menawarkan, apakah akan dilanjutkan pada labu kedua atau tidak, karena saat itu sama sekali tidak ada tanda-tanda bukaan. Jika tidak dilanjutkan pada labu kedua, maka otomatis istri saya harus melahirkan dengan cara caesar.
23 Oktober 2014
Dini hari itu kami meminta waktu sebentar untuk berdiskusi mengenai keputusan operasi caesar. Istri saya tak henti-hentinya menangis karena perjuangannya menahan sakit untuk melahirkan secara normal pupus sudah karena sama sekali tak ada bukaan meskipun telah di induksi dengan cara infus. Saya hanya bisa memeluk istri saya sambil menguatkan istri agar ia siap menghadapi operasi caesar.
Keputusan caesar telah dipilih, namun ternyata operasi tidak bisa dilakukan pada dini hari itu juga. karena dokter anestesi sebagian sedang keluar kota, dan sebagiaan lain masih manangani pasien di tempat lain. keputusan jam operasi baru kami peroleh sekitar pukul 04 dini hari. saat itu perawat menyampaikan bahwa proses operasi baru bisa dilakukan pada tanggal 23 oktober 2014 pukul 09.00.
Pukul 08.30 istri saya sudah dibawa ke ruang operasi. tangannya agak dingin..tapi saya lihat istri saya masih bisa memberikan senyumnya pada saya dan ibu mertua sebelum akhirnya didorong kedalam ruang operasi oleh perawat.
Pukul 09.31 saya dipanggil oleh salah satu perawat untuk mengisi surat tanda lahir, itu tandanya bayi dalam kandunan istri saya sudah berhasil dilahirkan..sujud syukur pun tak kuasa saya lakukan atas karunia yang tak terhingga tersebut. Subhaanallah walhamdulillaah walaa ilaaha illallaah allaahu akbar..rasa haru dan bahagia saya dan ibu mertua semakin menggelora saat mendengar tangisan buah hati pertama kami di gendong oleh perawat keluar. Puji syukur pada-Mu ya Allah...Alhamdulillah..
Kami menamai putera pertama kami dengan nama KENZIE HASBY ANDARO (Pemimpin bijaksana yang pemberi dan berseri). Semoga tumbuh menjadi anak yang soleh, sehat, luas rejekinya, dan qurrota a'yun. Aamin Yaa Robb. :-)
Pelantikan Presiden RI 2014-2019 Joko Widodo dan Wakil Presiden Jussuf Kalla
Tanggal 20 Oktober 2014 menjadi tanggal bersejarah bagi Indonesia karena presiden pilihan rakyat ke-7 dilantik pada tanggal tersebut. mungkin nggak hanya bagi bangsa Indonesia. tanggal tersebut juga bersejarah untuk saya pribadi. walaupun sebenarnya saya libur pada hari tersebut, saya diminta kantor untuk meliput suasana diluar gedung DPR-MPR RI, tempat pelantikan presiden Joko Widodo dan wakil presiden Jussuf Kalla.
Pukul 07 pagi seluruh tamu undangan satu persatu memasuki kawasan gedung DPR-MPR RI Jakarta pusat. tamu undangan tersebut terdiri dari keluarga predien dan wakil presiden terpilih, jajaran kementrian kabinet indonesia bersatu jilid 2, anggota DPR, MPR, dan DPR RI, dan tamu undangan lainnya.
Di halaman gedung DPR-MPR RI, terpasang sebuah poster ucapan selamat atas dilantiknya presiden dan wakil presiden baru Indonesia periode 2014-2019. dalam poster tersebut dituliskan pula janji presiden dan wakil presiden selama mereka memimpin Republik Indonesia kedepan. nggak mau menyia-nyiakan moment, saya meminta rekan cameraman habriyanto rosyidi untuk memotret saya dengan latar poster tersebut. hehe..
Pukul 10.00, presiden dan wakil presiden terpilih dilantik. Prabowo Subianto lawan politik Jokowi-JK di pilpres akhirnya hadir, setelah sebelumnya kehadirannya tidak bisa dipastikan. kehadirannya di ruangan pelantikan sempat membuat riuh tamu undangan dan wartawan yang meliput..hehe..ini yang jadi sorotannya siapa sih...harusnya kan presiden dan wakil presiden yang akan dilatik ye..
Anyway selamat menjalankan amanah rakyat ya Pak Joko Widodo dan Pak Jussuf Kalla, semoga kepemimpinanmu membawa maslahat untuk Indonesia. Aamiin Yaa Roob.
Kamis, 27 Maret 2014
Parpol Peserta Pemilu Tahun 2014
Inilah partai peserta pemilu tahun 2014. Pemilu legislatif akan digelar 9 April 2014 mendatang, aspirasikan suara kita untuk indonesia yang lebih baik dan sejahtera. Say 'NO' to Golput!
Lakukan Hal-hal Ini Agar Otak Tak Lagi Lemot
Agar tubuh tetap sehat maka diperlukan olahraga yang teratur. Nah hal tersebut juga
diperlukan oleh otak. Agar proses berpikir bisa lebih cepat, maka ada beberapa
hal yang bisa dilakukan untuk melatihnya.
Proses
berpikir yang cepat bisa membantu meningkatkan kemampuan orang dalam melakukan
banyak tugas diwaktu yang sama. Untuk mencapai hal tersebut, butuh pelatihan
otak sederhana namun efektif sehingga kebugaran pikiran meningkat.
Dilansir dari
Timesofindia, berikut 10 hal yang bisa dilakukan agar otak tidak lemot dan
dapat berpikir cepat:
1. Lakukan seni
Seni adalah
sumber latihan yang membantu meningkatkan bagian di otak yang bekerja
mengekspresikan diri secara non-verbal. Seni membuat orang jadi kreatif,
menggunakan keterampilan motorik halus dan berpikir analitis.
2. Memperluas kosa kata
Membaca
artikel, berita atau novel bisa membantu mempelajari kata-kata baru yang
sebelumnya tidak akrab didengar. Teknik ini akan membantu mempertajam memori
dan meningkatkan kosakata.
3. Gunakan tangan yang tidak dominan
Saat
melakukan tugas dasar yang membutuhkan konsentrasi, cobalah menggunakan tangan
yang tidak dominan. Kegiatan ini akan memerlukan perhatian ekstra sehingga
membuat diri lebih fokus menyelesaikan tugas-tugas sederhana.
4. Jangan gunakan kalkulator
Untuk
perhitungan dasar atau harian sebaiknya jangan menggunakan kalkulator, tapi
pilihlah metode kuno seperti menghitung dengan jari atau menghitungnya di
kepala. Ini adalah cara yang sangat umum untuk menjaga otak tetap aktif.
5. Belajar bahasa asing
Mempelajari
bahasa asing baru tidak hanya bisa meningkatkan karir profesional dan
pengetahuan baru, tapi juga menjadi sumber latihan untuk pikiran karena menjaga
otak tetap sibuk.
Selamat
mencoba, Dreamers!
Pengalaman di Metromini
Saya agak lupa tanggalnya, waktu itu saya dan istri hendak belanja ke tanah abang. Kebetulan dari kost saya di Jakarta ada metromini 064 yang langsung sampai tujuan. Dua menit duduk, tiba-tiba dari belakang ada seorang yang menyodorkan tangan dengan beberapa keping receh di depan wajah kita. Saat itu saya reflek hendak mengambil uang dari dompet untuk membayar ongkos, tapi ternyata istri saya juga bereaksi reflek dengan memberi isyarat tidak ada receh dengan tangannya kepada orang itu "maaf.." hahaha...istriku tersipu malu saat sang kondektur melewati tempat duduk kami (dipikirnya pengamen,ternyata kondektur hahaha).
Langganan:
Postingan (Atom)


.jpg)




